Tulisan Guru PAI

PERAN GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM MENGIMPELENTASIKAN KURIKULUM 2013

Posted on

Sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa dalam menerapkan kurikulum 2013 Guru berpedoman kepada Lampiran IV Permendikbud No. 81. A Tahun 2013, dimana Kurikulum  2013 mengacu kepada 8 standar pendidikan yang mengalami perubahan hanya terjadi pada 4 standar saja yaitu standar isi, standar proses,standar penilaian dan standar Kompeensi lulusan. Perubahannya jika KTSP (kurikulum 2006) Standar Nasional pendidikan (SNP) berdasarkan PP No 19 tahun 2005, sebagai acuan minimal penyelenggaraan pendidikan untuk seluruh lembaga penddikan dasar, dan menengah di seluruh wilayah hukum Indonesia.

SNP ini memiliki 8 standar, perbedaannya jika pada kurikulum 2006 semua standar dilakukan oleh sekolah sebagai KTSP dengan pemerintah memberikan kebebasan pada sekolah untuk menentukan silabus sendiri, akan tetapi realitasnya implementasi kurikulum 2006 di temukan hampir tidak ada sekolah yang mampu membuat sendiri silabus.

Telaah hasil implementasi KTSP 2006 yang mengalami kendala dan kesulitan implementasinya kemudian menghasilkan  perubahan-perubahan keputusan-keputusan pendidikan dalam beberapa hal. Secara umum perubahan tersebut menyangkut hal-hal yang berkaitan dengan perbaikan metodologi, diarahkan bagaimana guru how to make learning ( guru fasilitator), bagaimana guru membuat perencanaan yang baik, dan mengorganisasikan aktivitas pembelajaran ( to organise activities). dan penataan ulang kurikulum sekolah yang di bagi menjadi kurikulum tingkat nasional, daerah dan sekolah. SNP dalam kurikulum 2013 berdasaarkan PP no. 32 tahun 2013. SNP menentukan Standar isi dan SKL,.Tingkat Nasional menentukan Struktur Kurikulum, alokasi waktu, minimal dan maksimal, beban belajar dan kalender akademik. Pemerintah daerah menentukan mata pelajaran berbasis daerah, dan sekolah menentukan ciri khas sekolah.

Pada kurikulum 2013 SKL, mulai tingkat SD, SMP, SMA/SMK, peserta didik harus memiliki sikap yang baik ( menerima, menanggapi, menghargai, menghayati, dan mengamalkan), keterampilan (mengamati, menanya, mencoba, mengolah, menyaji, menalar dan mencipta) dan pengetahuan ( mengetahui, memahami, menerapkan, menganalisa dan mengevaluasi). SKL ini diturunkan menjadi 4 Kompetensi Inti (KI) yang sama semua mata  pelajaran. KI ini dikembangkan menjadi Kompetensi Dasar, sedangkan dalam proses pembelajaran menggunakan KI 3 dan KI 4, akan tetapi KI 1 dan KI 2 harus ditetapkan motto kurikulum 2013 adalah siapapun gurunya, apapun mata pelajaran yang diajarkannya harus menghasilkan peserta didik yang taat beragama, memiliki kemampuan sosial yang baik, cerdas dan terampil.

Sebagai perbandingan dalam pendidikan, tingkat SD, domain sikap lebih banyak, sedang keterampilan hanya sedikit dan pengetahuan lebih sedikit lagi. Tingkat SMP, domain sikap lebih dominan, keterampilan sedikit ditambah, dan pengetahuan sedikit lebih banyak dari SD, pada SMA/SMK keseimbangan antara sikap, keterampilan dan pengetahuan hampir berimbang, sedangkan di perguruan tinggi, sikap hampir tidak ada, yang dominan keterampilan dan penngetahuan.

Secara lebih spesifik perubahan implementasi kurikulum 2013 pendidikan agama Islam menyangkut standar proses mata Pelajaran Agama tidak ditematikan karena akan terjadi kekacauan jika disampaikan oleh guru yang memiliki agama yang berbeda.

Perubahan lainnya pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam adalah perubahan jumlah jam pelajaran dari 2 jam perminggu menjadi 3 jam, demikian pula pada nama, semula hanya Pendidikan Agama Islam  (PAI) menjadi Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti. Dalam pendekatan pembelajaran Pendidikan Agama Islam, kurikulum 2013 memperkenalkan pendekatan baru yaitu pendekatan scientific atau lebih dikenal dengan pendekatan keterampilan proses sains. Dalam pendekatan pembelajaran ini langkah-langkah yang harus dilakukan guru dalam proses pembelajaran siswa antara lain :

  1. Peserta didik harus dihadapkan pada fenomena konkrit,baik fenomena alam maupun sosial.
  2. Dari fenomena tersebut akan tumbuh inkuiri peserta didik dalam melakukan pertanyaan : Apa,Mengapa,dan Bagaimana hal itu bisa terjadi.
  3. Untuk memperoleh jawaban dari pertanyaan tersebut peserta didik perlu difasilitasi untuk menggali,mengkaji,memahami permasalahan melalui serangkaian kegiatan seperti eksplorasi perpustakaan, mencari narasumber langsung ataupun melakukan percobaan yang pada intinya mereka berusaha untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang muncul.
  4. Setelah peserta didik mendapatkan data/jawaban dari berbagai sumber maka peseta didik harus mampu mengkomunikasikan hasil mereka dalam forum diskusi kelas untuk mendapatkan penguatan baik dari peserta didik lain maupun dari guru pendidikan agama islam.

Peran Guru Pendidikan Agama Islam sebagai ujung tombak dalam mengimplementasikan kurikulum 2013 mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti ditutut untuk memiliki kompetensi lebih dibandingkan dengan para pendidik lainnya. Bukan hanya 4 kompetensi, seperti kompetensi paedagogik, professional, kepribadian, dan sosial, tetapin juga dibutuhkan kompetensi managerial/kepemimpinan. Sebab tugas dari Guru Pendidikan Agama Islam dan Budi pekerti bukan hanya sekedar mencerdaskan Intelektul peserta didik, tetapi juga bertugas untuk mencerdaskan emosional dan spiritualnya.

Guru Pendidikan Agama Islam dan budi pekerti harus menjadi uswah hasanah/teladan bagi para peserta didiknya. Sebagaimana yang pernah di lakukan masyarakat lampau, dimana Guru menjadi Teladan bagi muridnya, Guru lebih bersifat sebagai pengembala dari pada murid-muridnya dari pada sekedar mengajar. Murid di gembalakan untuk mengenal peraturan moral (akhlak) yang dianut oleh masyarakat.

Menurut Frof.DR. Akhmad Tafsir, dalam bukunya  Ilmu pendidikan Islam (Hal: 212) Guru Agama  terutama, diharapkan tidak hanya propesional dalam mengajar, tetapi juga ia juga bermoral ( berakhlak ) Islam. Dengan kata lain bukan hanya yang diajarkannya tetapi juga apa yang dilakukananya, bagaimana ia membawa diri  di dalam kelas maupun di luar kelas.

Penerapan Managerial (Teladan) tidak dapat di pungkiri, dimana-mana baik di Barat maupun Timur murid-murid cenderung meneladani pendidiknya; Dasarnya adalah karena secara psikologis anak memang senang meniru, tidak hanya yang baik, yang jelekpun ditirunya.

Sifat anak didik itu diakui dalam Islam. Umat meneladani Nabi: Nabi meneladani Al-Qur’an. Aisyah pernah berkata bahwa Akhlak Rasul Allah itu adalah Al-Qur’an.

Pribadi Rasulullah itu adalah interpretasi Al-Qur’an secara nyata. Tidak hanya cara beribadah, cara berkehidupan sehari-hari pun kebanyakan merupakan contoh tentang cara berkehidupan Islami. Contoh Rasulullah mengawini bekas istri Zaid; Zaid itu anak angkat Rasul. Ini ganjil bagi orang Arab ketika itu. Dengan Allah memberikan teladan secara praktis yang berisi ajaran bahwa anak angkat bukanlah anak kandung; bekas istri anak angkat boleh dikawini. Maka ketika Zaid telah menceraikan istrinya, Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi mukmin untuk mengawini bekas istri anak angkat mereka ( al-Ahzab  :37)

Banyak contoh yang di berikan oleh Nabi sebagai pegangan Guru PAI yang menjelaskan bahwa orang ( dalam hal ini Guru) jangan hanya berbicara, tetapi juga harus memberikan contoh secara langsung. Dalam hal peprangan, Nabi tidak hanya memegang komando; dia juga ikut perang, menggali parit perlindungan. Dia juga menjahit sepatunya, pergi berbelanja ke pasar, dan lain-lain ( Ahmad Tafsir: 212)

 

Dengan demikian maka, konsep managerial bagi guru pendidikan Islam betul-betul diterapkan dalam kurikulum 2013,  berarti  Guru pendidikan Agama Islam tidak hanya merealisasikan penerapan Kurikulum 2013 lampiran IV PERMENDIKBUD NO. 18 A TAHUN 2013, Tetapi juga telah  mrealisasikan Tujuan Pendidikan, sekaligus mengamalkan ajaran Islam, dimana sebenarnya tingginya kedudukan guru dalam Islam merupakan realisasi ajaran islam itu sendiri. Karena Islam adalah Agama, maka Pandangan tentang Guru dan kedudukannya, tidak terlepas dari nilai-nilai kelangitan. Lengkaplah sudah syarat –syarat untuk menempatkan kedudukan tinggi bagi  guru dalam Islam alasan Duniawi dan alasan Ukhrawi, atau alasan bumi dan langit (A. Tafsir:123)

Tingginya kedudukan guru dalam Islam, sebenarnya masih dirasakan terutama di pesantren-pesantren di Indonesia. Santri bahkan tidak berani menentang sinar mata kiyai, sebagian lagi membungkukkan badan tetkala menghadap kiayinya. Bahkan konon, ada santri yang tidak berani kencing menghadap rumah kiayi sekalipun ia berada dalam kamar yang tertutup. Betapa tidak, mereka silau oleh tingkah laku kiyai yang begitu mulia, sinar matanya yang “menembus ”, ilmunya yang luas dan dalam, doanya yang diyakini diijabah. (Akhmad Tafsir : hal 123)

Ada penyebab khas mengapa orang Islam amat menghargai Guru. Yaitu pandangan bahwa ilmu (pengetahuan) itu semuanya bersumber pada Tuhan: Ilmu datang dari Tuhan, Guru pertama adalah Tuhan. Ilmu tidak terlepas dari Guru, maka kedudukan guru amat tinggi dalam Islam.

Selamat menyambut  dan menerapkan kurikulum 2013  semoga Guru-guru pendidikan agama    menjadi  Uswah ( Teladan ) bagi murid-muridnya Karena Allah.In-yansur kumullah Yansurkum wayusabit Aqdamakum. Amiin.

Post by : Muslihah ( PPs UIKA )

Iklan

Rahasia dalam Pacaran

Posted on Updated on

Oleh: Sudarjat  (SMAN 1 Tenjo)

“Pacaran” begitulah kata yang terdengar sangat indah bagi telinga manusia. Apalagi yang mendengar adalah manusia muda. Sepanjang hidup saya, sering sekali saya melihat bentuk pacaran. Entah kenapa dan dimulai sejak kapan cinta dapat membuat manusia menjadi senang tidak kepalang. Sekaligus cinta juga dapat membuat hancur manusia. Ada apa sih dibalik cinta dan pacaran? mau tahu.. lanjutkan baca post ini.

Cinta-love-hubb merupakan sebuah kata yang luar biasa. setiap menusia mengenalinya. Bahkan Al-quran sendiri sering sekali menyinggung kata cinta. Cinta juga menjadi aset yang luar biasa untuk para penyanyi di Indonesia dan di luar negeri pula sepertinya (kenapa ragu ya.. maklum saya gak terlalu suka dengan lagu-lagu dari luar sana. Karena kata bang JK, kita harus mencintai produk Indonesia). Hampir seluruh lagu yang digubah di Indonesia, mayoritas mengangkat tema tentang cinta.

Ketika melihat kenyataan hidup, seluruh kegiatan manusia dipengaruhi oleh cinta. Manusia melakukan apapun yang diinginkan oleh orang yang dicintainya. Jika cinta menjauh, manusia melakukan sesuatu yang di luar akal sehat. Tidak sedikit manusia yang bunuh diri dan gila ketika putus cinta.

LUAR BIASA….FANTASTIS….Begitulah ungkapan yang saya bisa ungkapkan menyikapi keluarbiasaan cinta.

Kenapa Allah ciptakan cinta dan pacaran dalam kehidupan ini, apa yang Beliau inginkan? mari kita diskusikan beberapa pertanyaan berikut:

  1. Apa yang akan dilakukan seseorang jika dia mencintai pacarnya?
  2. Apa yang akan diberikan seorang pacar, jika pasangannya selalu mengikuti apa yang diinginkan sang pacar?
  3. Apa yang terjadi jika seorang pacar jarang sekali apel kepada pasangannya, dan tidak memperhatikan keinginannya?

Jawaban pertama.

Dapat dipastikan, jika kita mencintai seseorang, kita akan selalu mengingatnya, mengikuti segala keinginannya, menjauhi segala larangannya, memberi perhatian sampai kepada hal-hal yang sepele sekalipun, dan pastinya kita siap mengorbankan apapun demi cinta kita.

Jawaban kedua.

Ketika kita dicintai oleh pacar kita dengan sepenuh hati, tentunya apapun yang pacar kita inginkan akan kita usahakan untuk beri. Bahkan tanpa dimintapun kita tentu akan berikan.

Jawaban ketiga.

Pasti dalam waktu sekejap, kita akan putus. Atau apapun yang kita minta, tentu pacar kita tidak akan pernah memperhatikan apalagi memberinya.

Apa hikmah dibalik itu semua?

Subhanallah…. Maha suci dan maha luar biasanya Allah yang telah menciptakan cinta dan pacaran dalam kehidupan manusia. Ternyata dibalik itu semua terdapat ibroh (pelajaran) bagi kita dalam hubungan dengan Dia.

Kita bisa mengorbankan apapun dalam hidup kita demi mendapatkan cinta pacar kita, tetapi kita sangat berat berkorban untuk mendapatkan cinta Dia yang maha segala.

Kita akan selalu usahakan untuk berangkat apel pada pacar kita, tetapi kita lupa waktu apel pada tuhan kita. (Dhuhur, Ashar, Maghrib, Isya, Shubuh). Setiap pagi kita selalu kirim sms ke nomor pacar kita, walau hanya mengirim kata “pagi syg, dah mandi lom? atau “dah mam lom”. Tapi kenapa kita lupa dengan nomor yang seharusnya menjadi pacar utama kita 44342.

Jika kita menarik sebuah kesimpulan dari itu semua, wajar permintaan kita kepada Allah sulit berhasil. Karena kita jarang apel, apalagi bawa hadiah untuk pacar kita ini, kirim sms juga jarang.

Kritik USBN PAI 2011

Posted on

USBN PAI 2011

BELUM SESUAI HARAPAN

Oleh : Ijen ZA;Guru PAI SMAN 1 Cigombong Bogor

Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) Pendidikan Agama Islam sejatinya bertujuan untuk mengukur kompetensi peserta didik secara nasional untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah dengan suatu standar yang ditetapkan oleh pemerintah. Namun ternyata belum sesuai harapan semua pihak. Beberapa daerah belum menyelenggarakannya sesuai POS USBN pusat, seperti di Kabupaten Bogor.

Pekan ketiga April 2011 ini semua tingkatan baik SMA/SMK, SMP maupun SD telah usai menggelar USBN tersebut. Ada beberapa catatan yang perlu penulis sampaikan. Hal ini telah dikomunikasikan kepada pengawas dan Kankemenag, namun belum mendapat respon memuaskan.

Berikut ini beberapa catatan dimaksud :

Untuk SMA dan SMK

  • Jadwal penyelenggaraan tidak sama

Ini benar-benar terjadi. USBN PAI SMK lebih dulu, tepatnya pekan ke-3 Maret. Sementara untuk SMA pekan ke 4. Padahal soal persis sama. Ini tentu membuat soal USBN PAI SMA bocor, artinya bukan menjadi rahasia Negara lagi. Boleh jadi kebocoran soal ini bukan hanya di dalam kabupaten Bogor, tetapi juga dengan soal yang dikeluarkan di kota Bogor bahkan dengan luar kabupaten. Ini penulis temukan kesamaan soal antara kabupaten Sukabumi dengan kab. Bogor yang berbatasan langsung. Tepatnya antara kec, Cigombong (Bogor) dengan kec. Cicurug (Sukabumi). Soal USBN PAI hampir mirip.

  • Identitas USBN tidak Nampak

Ini ditemukan pada soal USBN PAI SMA. Pada halaman pertama sampai halaman akhir tidak muncul nama USBN. Yang ada hanya nama Ujian Sekolah dengan logo Pemda. Terlebih simbol nasional-nya yang berupa logo Kementerian Agama, Kementerian Pendidikan Nasional dan BSNP. Logo ketiga lembaga ini sama sekali tidak nampak. Padahal inilah yang membedakan status US dengan  USBN. Jadi peserta didik tidak merasakan bahwa mereka sedang mengerjakan soal USBN.  Disamping itu dengan hadirnya identitas USBN akan lebih menambah wibawa mata pelajaran PAI ini.

  • SMP dan SD

Untuk soal USBN PAI tingkat SMP Nampak cukup baik. Pada halaman cover nampak simbol USBN dengan 4 logo instansi, yaitu logo Kemenag, Pemda, Kemendiknas dan logo BSNP. Namun tampilan hurup kurang begitu jelas, hampir mirip dengan produk foto copy.

Untuk soal USBN PAI SD malah tidak sesuai dengan Kisi-kisi USBN. Sejak nomor pertama sampai terakhir tidak ada yang sesuai dengan Kisi-kisi pusat. Padahal sesuai POS, soal yang disusun di daerah harus mengacu kepada kisi-kisi yang telah disiapkan oleh Kementerian Agama RI. Hanya ada tulisan US dan USBN pada halaman pertama. Disamping itu jumlah soal hanya 40. Padahal seharusnya 50 soal.

Alternatif Solusi

Penulis berbangga dengan kesediaan Pemda dan Kantor Kemenag kab. Bogor yang telah ikut mendukung program nasional ini, yaitu USBN PAI 2011. Untuk itu beberapa kekurangan di atas perlu mendapat perhatian semua pihak, terutama Pemda. Penulis mengusulkan agar komunikasi antara kedua instansi ini lebih intensif lagi. Insya Allah semua permasalahan di atas akan dapat teratasi, yang pada akhirnya akan mampu mengangkat kualitas pendidikan; terutama pendidikan agama Islam di kabupaten Bogor.

Untuk pemerintah Jawa Barat, penulis juga mengusulkan agar menyamakan jadwal USBN PAI ini untuk seluruh kabupaten/kota di Jawa Barat, demi memelihara kerahasiaan soal USBN ini. Demikian pula usul untuk organisasi profesi seperti KKG, MGMP, Pokjawas dan AGPAII agar mengawal agenda USBN PAI dengan kompak.

Semoga penyelenggaraan USBN PAI tahun berikutnya lebih baik dan berkualitas.

Zakat Sebagai Sistem Ekonomi Negara

Posted on Updated on

Kenapa zakat menjadi salah satu dari rukun islam?

Apa sebenarnya yang dimaksud zakat dalam islam?

Dua pertanyaan inilah yang selalu menggelayuti pikiran saya. Kenapa begitu banyak kemiskinan dan ketidak adilan ekonomi pada bangsa yang katanya mayoritas islam. Apa memang umatnya hanya mengaku islam doang, padahal tidak diakui sebagai islam. he..he..

Saya teringat dengan sebuah pengajaran yang disampaikan oleh guru ngaji saya dulu ketika SMP, katanya pada zaman rosulullah itu, ada sebuah lembaga keuangan yang dinamai dengan BAITUL MAL (Gudang Harta)…Kalau sekarang bank kali ya….

Ada sesuatu yang menarik ketika saya mempelajari tentang baitul mall ini. Entah kenapa saya begitu yakin kalau baitul mall ini adalah bank yang tidak akan pernah bangkrut selama ada orang islam. Kenapa, karena yang nabung tidak pernah meminta lagi uang tabungan mereka.

Saya sering berkhayal, jika sebuah kampung dengan jumlah warga yang menghasilkan uang 500 0rang dan setiap orang berpendapatan Rp 10.000/hari, dengan dibangun kesadaran mengeluarkan 2,5% dari penghasilannya maka akan terkumpul dana Rp 250 x 500 = Rp 125.000/hari.

Coba kita bulankan, akan terkumpul dana hibah sebesar Rp 3.750.000/bulan. Logika ini jika seluruh rata mendapat penghasilan Rp 10.000. Bagaimana jika lebih dari itu. Subahanallah. Sistem yang luar biasa.

Dengan uang segini, saya kira kita dapat membangun ekonomi kerakyatan pinjaman tanpa agunan dan tanpa bunga. Bukan seperti bank syariah dan bank muamalah yang merupakan sistem ekonomi kapitalis berjubah islam.

 

R.A. Kartini dan Islam

Posted on

Oleh: Dadang Kohar, S.Pd.I (GPAI SMAN 1 Ciawi)

Kyai, selama kehidupanku baru kali inilah aku sempat mengerti makna dan arti surat pertama dan induk al-Quran yang isinya begitu indah menggetarkan sanubariku. Maka bukan bualan rasa syukur hatiku kepada Allah. Namun aku heran tak habis-habisnya, mengapa para ulama saat ini melarang keras penerjemahan dan penafsiran al-Quran dalam bahasa Jawa? bukankah al-Quran itu justru kitab pimpinan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?” Begitu komentar Kartini ketika bertanya kepada gurunya, Kyai Sholeh Darat.

Pemikiran Kartini berubah, yang tadinya menganggap Barat (Eropa) sebagi kiblat, lalu menjadikan Islam sebagai landasan dalam pemikirannya. Hal ini setidaknya terlihat dari surat Kartini kepada Abendanon, 27 Oktober 1902 yang isinya berbunyi, “Sudah lewat masamu, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, apakah Ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah Ibu menyangkal bahwa di balik sesuatu yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut peradaban?”

Demikian juga dalam surat Kartini kepada Ny. Van Kol, 21 Juli 1902 yang isinya, “Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain memandang agama Islam patut disukai.”

Setelah mempelajari Islam dalam arti yang sesungguhnya dan mengkaji isi al-Quran, Kartini terinspirasi dengan firman Allah SWT (yang artinya), “…mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman) (QS al-Baqarah [2]: 257),” yang diistilahkan Armyn Pane dalam tulisannya dengan, “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Kartini memiliki cita-cita yang luhur, yaitu mengubah masyarakat, khususnya kaum perempuan yang tidak memperoleh hak pendidikan, juga untuk melepaskan diri dari hukum yang tidak adil dan paham-paham materialisme, untuk kemudian beralih ke keadaan ketika kaum perempuan mendapatkan akses untuk mendapatkan hak dan dalam menjalankan kewajibannya. Ini sebagaimana terlihat dalam tulisan Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya pada 4 oktober 1902, yang isinya, “Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan, bukan sekali-kali, karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya, tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya; menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.”

Beberapa surat Kartini di atas setidaknya menunjukan bahwa Kartini berjuang dalam kerangka mengubah keadaan perempuan pada saat itu agar dapat mendapatkan haknya, di antaranya menuntut pendidikan dan pengajaran untuk kaum perempuan yang juga merupakan kewajibannya dalam Islam, bukan berjuang menuntut kesetaraan (emansipasi) antara perempuan dan pria sebagaimana yang diklaim oleh para pengusung ide feminis. Wallahu a‘lam bi muradih

R.A Kartini Bukan Pejuang Gender

Posted on

Oleh: GPAI

Aktivis perempuan sudah menobatkan R.A. Kartini sebagai pejuang emansipasi. Dia digambarkan sebagai sosok yang bersemangat memperjuangkan kaum perempuan agar mempunyai hak yang sama dan sejajar dengan kaum pria. Pada bulan April tokoh ini kembali diangkat sembari terus mendorong perempuan Indonesia untuk menempati posisi-posisi yang biasanya didominasi oleh pria. Bagai gayung bersambut, kaum perempuan Indonesia pun bergegas mencari peluang karir setinggi-tingginya, tanpa peduli harus mengorbankan keluarga maupun harga dirinya. Benarkah semua ini sejalan dengan perjuangan Kartini?

Agaknya kesimpulan ini terlalu terburu-buru. Mengenal Kartini salah satunya dengan membaca buku kumpulan surat-surat Kartini kepada sahabat-sahabatnya di Negeri Belanda. Dalam buku ini tampak bahwa Kartini adalah sosok yang berani menentang adat-istiadat yang kuat di lingkungannya. Dia menganggap setiap manusia sederajat sehingga tidak seharusnya adat-istiadat membedakan berdasarkan asal-usul keturunannya. Memang, pada awalnya Kartini begitu mengagungkan kehidupan liberal di Eropa yang tidak dibatasi tradisi sebagaimana di Jawa. Namun, setelah sedikit mengenal Islam, Kartini justru mengkritik peradapan masyarakat Eropa dan menyebutnya sebagai kehidupan yang tidak layak disebut sebagai peradaban.

Dalam suratnya Kartini meminta pemerintah Hindia Belanda memperhatikan nasib pribumi dengan menyelenggarakan pendidikan. Ia mengungkap hal yang sama kepada sahabat-sahabatnya, terutama pendidikan bagi kaum perempuan. Hal ini karena perempuanlah yang membentuk budi pekerti anak. Berulang-ulang Kartini menyebut perempuan adalah istri dan pendidik anak yang pertama-tama. Dia memaksudkan keinginannya mengusahakan pendidikan dan pengajaran agar perempuan lebih cakap dalam menjalankan kewajibannya dan tidak bermaksud menjadikan anak-anak perempuan menjadi saingan laki-laki. Tidak ada keinginan Kartini untuk mengejar persamaan hak dengan laki-laki dan meninggalkan perannya dalam rumah tangga. Bahkan ketika ia menikah dengan seorang duda yang memiliki banyak anak, Kartini sangat menikmati tugasnya sebagai istri dan ibu bagi anak-anak suaminya. Inilah yang membuat Stella, sahabatnya, heran mengapa Kartini rela menikah dan menjalani kehidupan rumah tangganya.

Demikianlah, Kartini adalah sosok yang mengajak setiap perempuan memegang teguh ajaran agamanya, dan meninggalkan ide kebebasan yang menjauhkan perempuan dari fitrahnya. Kini jelas apa yang diperjuangkan aktivis jender dengan mendorong perempuan meraih kebebasan dan dan meninggalkan rumah tangganya bukanlah perjuangan Kartini. Sejarah Kartini telah disalahgunakan sesuai dengan kepentingan mereka. Kaum Muslim telah dijauhkan dari Islam dengan dalih kebebasan, keadilan dan kesetaraan jender.

Jadi, kaum Muslimah saat ini harus kembali pada Islam, menjalankan tugasnya sebagai ibu dan istri sekaligus menyadarkan Muslimah yang lain agar tidak tertipu ide jender yang sejatinya merendahkan martabat mereka, membahayakan generasinya serta menjauhkan dari agamanya.

Mendidik Dengan Syariah

Posted on

Posted by: GPAI

Pendidikan merupakan dasar dari pembentukan karakter seorang individu. Islam begitu memperhatikan masalah pendidikan, bahkan sejak dari tahap pernikahan yang akan dijalani oleh sepasang calon pasangan suami-istri. Islam menekankan bahwa pernikahan adalah jalan untuk meneruskan keturunan. Ada kewajiban untuk mendidik keturunan sehingga menjadi generasi penerus unggulan. Seorang ibu memegang peran penting dalam mendidik anak karena dia adalah madrasah pertama bagi anak. Karena pentingnya tujuan pernikahan, kita dituntun untuk tidak sembarangan memilih calon pasangan hidup; ditekankan pada kekuatan akidahnya. Akidah inilah yang menjiwai dan memberi nafas bagi semua lini kehidupan Islam.

Pendidikan ditekankan pada sang ibu agar memiliki tsaqafah Islam yang dibutuhkan untuk mendidik anaknya Selanjutnya adalah tanggung jawab negara menyediakan pendidikan gratis dan berkualitas berlandaskan akidah Islam bagi anak-anak mereka, para ibu yang salihah; sehingga untuk membentuk generasi unggulan tentu tidak akan sulit. Hal ini hanya akan terwujud jika ada seorang khalifah, sang pemimpin Negara Daulah Islam-Khilafah Islamiyah, yang menerapkan syariah Islam secara kaffah sehingga akan memberikan rahmat yang luar biasa mencakup seluruh alam, baik bagi Muslim maupun non-muslim.

Tentu hal ini berbeda jika tidak ada seorang khalifah, Khilafah dan penerapan Islam menyeluruh. Rakyat hanya bisa menjeritkan penderitaannya yang tiada bertepi akibat tergerus oleh sistem zalim bernama Kapitalisme. Sistem kapitalis mengkomersialisasikan semuanya, baik di bidang kesehatan, pendidikan, kebutuhan pokok rakyat. Akibatnya, rakyat bukan semakin salih, tetapi malah menjadi mesin pencetak uang alias economic animal. Akhirnya, sekularisasi merajai jiwa mereka. Akidah mereka buang jauh dan lebih mementingkan kegiatan mencari uang. Mereka tidak lagi terikat dengan halal-haram, tetapi membebaskan diri mereka atas nama HAM sehingga membuat para kaum perempuan berlomba mencari jati diri sebagai wanita karir dan menganggap remeh peran mereka sebagai seorang ibu-pendidik anak dan pengurus rumah tangga; walaupun latar belakang keluarga mereka berkecukupan secara finansial. Hal ini hanya akan mengakibatkan penderitaan rakyat tiada bertepi, dan anak-anak generasi penerus yang jadi korban.

Hanya ada satu kata, untuk menyelamatkan pendidikan generasi kita, yaitu terapkan syariah secara kaffah, dirikan Khilafah, baiat seorang khalifah. Tidak ada solusi lain. [Irawati TriKurnia; Kendangsari, Surabaya-Jatim]

Membincangkan Kembali Sistem Pendidikan Islam

Posted on Updated on

Oleh: Dadang Kohar, S.Pd.I (GPAI SMAN 1 Ciawi)

Bangsa ini memiliki kualitas SDM yang rendah. Hal ini terlihat dari data mahasiswa baru (tahun 2008) di salah satu perguruan tinggi ‘terbaik’ di Indonesia, diperoleh gambaran sbb:

Tingkat Kecerdasan (IQ > 110) 79%

Kemandirian 13%

Usaha 67%

Percaya Diri 11%

Kepekaan 19%

Kepemimpinan 4%

Dari data ini terlihat jelas bahwa mereka memiliki IQ yang tinggi, namun mereka tidak mandiri, tidak percaya diri, bahkan tidak memiliki jiwa kepemimpinan. Potret generasi seperti ini tidak mampu menyelesaikan persoalan orang lain, apalagi persoalan negara. Yang mereka pikirkan hanyalah seputar dirinya. Jadi, wajar jika lulusan pendidikan di negeri ini hanya diposisikan sebagai buruh, bukan sebagai pencipta lapangan kerja. Ini artinya: Indonesia hanya berpredikat sebagai follower, bukan sebagai leader. Dapat dikatakan sistem pendidikan nasional saat ini telah gagal memproses generasi bangsa ini menjadi generasi cerdas dan mandiri.

Negeri-negeri muslim mengalami krisis generasi. Hal ini disebabkan karena sistem pendidikan sekular-materialistik yang diterapkan. Sistem pendidikan ini telah menghasilkan generasi yang lemah. Sosok-sosok seperti inilah yang telah menghantarkan kehancuran negeri-negeri Muslim ke dalam jurang kezaliman.

Oleh karena itu, menjadi penting bagi kaum Muslim pada umumnya dan generasi Islam pada khususnya untuk mendapatkan gambaran dari sistem Pendidikan Islam yang bersifat komprehensif-integral, yang dapat diterima secara universal oleh umat manusia lainnya.

Pendidikan dalam Sistem Khilafah (Pemerintahan Islam)

Pendidikan bagi setiap Muslim merupakan kebutuhan dasar. Allah SWT telah mewajibkan setiap Muslim untuk menuntut ilmu dan membekali dirinya dengan berbagai macam ilmu untuk dapat menyelesaikan permasalahan dirinya, keluarga, masyarakat dan negara.

Rasulullah saw. bersabda: Menuntut ilmu wajib atas setiap Muslim (HR Ibnu Majah).

Dalam hadis lain dikatakan, “Jadilah kamu orang berilmu, atau pencari ilmu, atau pendengar (ilmu), atau pecinta (ilmu)j jangan menjadi yang kelima (orang bodoh) nanti kamu binasa.” (Lihat: Al-Fathul Kabir, I/204).

Dari hadis di atas, di dalam Khilafah tidak akan muncul peluang timbulnya kebodohan di kalangan kaum Muslim. Sebab, negara memiliki kewajiban untuk melahirkan generasi yang berkualitas yang secara hakiki mengambil ideologi Islam sebagai asas kehidupannya. Generasi ini telah memajukan peradaban Islam di muka bumi selama lebih 13 abad.

Tujuan Umum Pendidikan.

Dalam menyusun kurikulum dan materi pelajaran terdapat dua tujuan pokok pendidikan yang harus diperhatikan:

1. Membangun kepribadian islami, pola pikir (aqliyah) dan jiwa (nafsiyah) bagi umat, yaitu dengan cara menanamkan tsaqafah Islam berupa akidah, pemikiran dan perilaku islami ke dalam akal dan jiwa anak didik.

2. Mempersiapkan anak-anak kaum Muslim agar di antara mereka menjadi ulama-ulama yang ahli di setiap aspek kehidupan, baik ilmu-ilmu keislaman (ijtihad, fikih, peradilan dan lain-lain) maupun ilmu-ilmu terapan (teknik, kimia, fisika, kedokteran, dan lain-lain). Ulama-ulama yang mumpuni akan membawa negara Khilafah dan umat Islam untuk menempati posisi puncak di antara bangsa-bangsa dan negara-negara lain di dunia, bukan sebagai pengekor maupun agen pemikiran dan ekonomi negara lain.

Output Pendidikan Islam.

Output pendidikan Islam adalah lahirnya individu-individu terbaik yang memiliki pola pikir dan pola sikap Islam serta jiwa kepemimpinan baik pada skala individu, komunitas bahkan skala bangsa/negara.

Kaum Muslim diposisikan oleh Allah SWT sebagai umat terbaik (QS Ali Imran [3]: 110). Karena itu Khilafah wajib menyiapkan generasi terbaik (khayru ummah) agar dapat memimpin bangsa-bangsa lainnya. Gambaran generasi terbaik yang diinginkan adalah generasi yang memiliki: (1) kepribadian Islam; (2) Faqih fi ad-Din; (3) Terdepan dalam sains dan teknologi; dan (4) berjiwa pemimpin. Generasi inilah yang akan menjadi pengendali eksistensi negara menjadi negara mandiri, kuat, terdepan dan mampu memimpin bangsa-bangsa lainnya.

Berdasarkan output pendidikan ini, dibuat arah (tujuan) pendidikan, selanjutnya diturunkan di dalam kurikulum pembelajaran dan metode pembelajaran. Negara harus menyiapkan standar kurikulum, yakni kurikulum yang terintegrasi dengan akidah Islam yang disesuaikan dengan level berpikir (usia). Selanjutnya negara menetapkan metode pembelajaran yang baku dalam proses pembelajaran.

Kurikulum Pendidikan Islam.

Negara menetapkan kurikulum pendidikan berdasarkan akidah Islam. Sebab, akidah Islam menjadi asas bagi kehidupan seorang Muslim dan asas bagi negaranya. Maknanya, akidah Islam dijadikan standar penilaian. Kurikulum yang bertentangan dengan akidah Islam tidak boleh diambil atau diyakini.

Negara harus memberlakukan kurikulumnya berdasarkan level berpikir (usia) anak agar anak dapat mengamalkannya dan anak didik tidak merasa terbebani.

Negara harus memberlakukan kurikulum yang sesuai untuk mencapai output pendidikan, yakni dengan cara membagi kurikulum menjadi: (1) kurikulum dasar, seperti tahfizh al-Quran dan bahasa (Arab, lokal, internasional); (2) kurikulum inti, seperti tsaqafah Islam (ilmu-ilmu keislaman, al-Quran, hadis, fiqih, dll);(3) kurikulum penunjang, seperti ilmu-ilmu terapan, matematika, dll.

Metode Pembelajaran.

Metode pengajaran yang benar adalah penyampaian (khithab) dan penerimaan (talaqqi) pemikiran dari pengajar kepada pelajar. Seorang pengajar harus dapat memberikan gambaran yang mendekati suatu realita kepada anak didik ketika menyampaikan suatu konsep atau ide sehingga realita tersebut dapat dirasakannya atau tergambar di benaknya. Dengan demikian mereka telah menerimanya sebagai sebuah pemikiran sehingga terdorong untuk mengamalkannya.

Instrumen terpenting dalam penyampaian atau penerimaan pemikiran pada proses belajar-mengajar adalah bahasa yang jelas maknanya dan mudah dipahami oleh anak didik sehingga setiap anak didik bisa memahami 100% setiap mata pelajaran.

Manajemen Pendidikan Islam.

Untuk mencerdaskan rakyatnya, negara perlu menata dan mengelola sistem pendidikan yang diadopsi agar tercapai output pendidikan Islam. Untuk itu perlu dilakukan pengelolaan dalam empat hal yakni:

1) Biaya pendidikan: bebas biaya.

2) Sarana dan prasarana pendidikan yang memadai seperti ruang kelas, perpustakaan, laboratorium sebagai tempat praktik secara langsung bagi anak-anak didik, dll agar proses belajar mengajar dapat berjalan dengan baik.

3) Penyediaan guru yang berkualitas. Gambaran guru yang berkualitas antara lain: (a) memiliki kepribadian Islam, guru akan menjadi model bagi anak-anak didiknya; (b) memahami potensi anak; (c) memahami perkembangan anak berdasarkan usia; (d) memahami arah dan target pembelajaran anak berdasarkan level berfikir (usia); (e) menguasai metode pembelajaran untuk menjadi rujukan perilakunya, (f) kreatif dan inovatif dalam teknik pembelajaran, sehingga anak menjadi senang belajar dan tanpa beban.

4) Penyiapan orangtua yang berkualitas. Negara harus mendorong dan memfasilitasi orangtua dalam meningkatkan kemampuannya dalam mendidik anaknya agar tercapai output pendidikan. Gambaran orangtua yang berkualitas antara lain: (a) memiliki kepribadian Islam, orangtua adalah orang pertama yang akan dicontoh oleh anak; (b) memahami potensi anak; (c) memahami perkembangan anak berdasarkan usia; (d) memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap proses pembelajaran anak terutama di usia pra-balig; (e) memberikan perhatian yang utuh terhadap perkembangan anak; (f) memberikan kasih sayang yang tulus kepada anak; (g) senantiasa memuliakan anak; (h) memahami arah dan target pendidikan anak berdasarkan level usia; (i) siap menjadi guru pertama dan utama bagi anak-anaknya.

Kesimpulan

Dimulai sejak masa Rasulullah saw., pendidikan untuk rakyat menjadi kewajiban negara. Begitu juga pada masa Khalifah Umar bin Khaththab ra. yang senantiasa berharap adanya SDM yang berkualitas di negaranya agar mereka dapat membantu mengatur urusan umatnya. Sebagai contoh Muadz bin Jabal yang dikenal sebagai individu yang berkapabilitas tinggi dalam memahami halal dan haram sampai-sampai beliau dinobatkan menjadi Hakim Agung pada usia 18 tahun. Sudah saatnya negeri ini dan negeri-negeri Muslim lainnya mengganti seluruh tatanan kehidupannya, termasuk pendidikan dengan Ideologi Islam, agar lahir secara massal generasi seperti Muadz bin Jabal, generasi yang berkualitas tinggi, yang mampu mengembalikan kemuliaan Islam dan kemuliaan kaum Muslim di seluruh dunia.

Produk Powerpoint/Presentasi

Posted on Updated on

Dalam rangka meningkatkan kemudahan GPAI SMA/SMK Kab. Bogor untuk mendapatkan referensi dan media pembelajaran dalam bentuk powerpoint halaman ini dibuat.

Bagi kawan-kawan yang memiliki tulisan dalam bentuk powerpoint dimohon untuk bisa berbagi dengan kawan-kawan kita yang lain melalui link ini  Presentasi GPAI

Catatan:

1. Tidak menimpa karya teman sebelumnya.

2. Untuk memiliki akun masuk dan passwornya silakan konfirmasi ke mgmp_paisma@yahoo.co.id atau sms ke 085219735097 (Maaf ini admin lakukan untuk menghindari pihak-pihak yang tidak bertangggung jawab)

Ayo Menulis!

Posted on Updated on

Buat kawan kawan GPAI SMA Kab. Bogor yang memiliki tulisan tulisan ilmiah sebagai referensi kita sebagai GPAI Silahkan kirimkan ke mgmp_paisma@yahoo.co.id.

atau langsung saja menulis di kumpulan tulisan GPAI

Catatan:

1. Untuk masuk silahkan konfirmasi ke mgmp_paisma@yahoo.co.id atau sms ke 085219735097 (Maaf ini admin lakukan untuk menghindari pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab)

2. Jangan menutup tulisan yang sudah ada. Buat di bawahnya.